Wednesday, September 4, 2013

Our Town / 우리 동네 (2007) Korean Serial Killer Movie Review


Untuk ngisi waktu selo kali ini, saya mau coba nulis sedikit pendapat saya soal film berjudul "Our Town" ini. Film garapan Jeong Gil-Yeong ini menceritakan tentang pembunuhan berantai yang terjadi di suatu daerah. Kasus pembunuhan itu sendiri memiliki suatu ciri khas sendiri yang ditinggalkan pada tiap korbannya. Kebanyakan korbannya digantung dengan cara diikat disebuah tiang dan dibiarkan menggantung sampai ada orang yang menemukannya. Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh bernama Kyung Ju (Oh Man Seok), yang merupakan seorang penulis novel fiktif. Ia sedang menggarap novel pertamanya yang menceritakan sebuah kisah pembunuhan. Ia tinggal bersama seorang temannya bernama Jae Sin (Lee Seon Gyun), Jae Sin sendiri merupakan seorang detektif yang menangani kasus pembunuhan berantai yang terjadi saat itu.
Kyung Ju sendiri yang sering minum-minum dan semacam dibayangi dengan penggarapan novelnya ia sering berhalusinasi membunuh orang dan akhirnya dia benar-benar melakukannya. Kyung Ju membunuh pemilik apartemennya yang waktu itu nagih uang ke Kyung Ju. Sebenarnya masalah muncul bukan karena pembayaran apartemen itu sendiri tapi karena permasalahan kecil.
Nah, Kyung Ju akhirnya manfaatin kasus pembunuhan berantai yang memang terjadi saat itu. Dia berusaha  ngelakuin copy cat crime buat nutupin tindak kejahatannya itu. Pembunuh berantai yang sebenarnya tahu kalau Kyung Ju mencoba meng-copy tindakannya. Kyung Ju yang panik akhirnya mencoba mencari siapa pembunuhnya dengan pura-pura bantu temennya Jae Sin yang dipusingkan sama kasus itu.
Yang megejutkan lagi ternyata sepuluh tahun sebelumnya pembunuhan semacam itu pernah terjadi di daerah yang sama, tapi pembunuhnya juga belum ditemukan sampai saat itu. 
Jae sin menemukan fakta baru kalau sepuluh tahun yang lalu ternyata kasus semacam ini dengan ciri-ciri yang sama pernah terjadi di daerah tersebut. Jae Sin sendiri akhirnya menemukan beberapa bukti yang nggiring dia untuk mencurigai Kyung Ju sahabatnya dan dia mencoba menyelidikinya, tapi yang terjadi malah Jae Sin tergiring ke masalah yang lebih besar lagi. 
Film ini sendiri bisa dibilang menyajikan sebuah kesimpulan yang cukup mengejutkan dengan munculnya sosol bernama Hyo I (Ryu Deok Hwan) yang ternyata berhubungan dengan masa lalu dari Kyung Ju.
Menurut saya sendiri film ini bisa dibilang cukup apik dan seru lah buat ditonton. Disediakannya hal-hal tidak terduga bikin film ini nggak membosankan untuk ditonton. Directornya berusaha mempermainkan pikiran penonton agar terjebak ke suatu pemikiran yang ternyata berbeda dengan prediksi penonton. Sang director disini tampak berusaha buat mencampur berbagai macam genre juga mulai dari thriller, misteri detektif-detektifan, sampai ke unsur psikologis yang dimasukin ketiap karakter yang ada. 
Saya sendiri nggak tahu apa film semacam ini pernah dibuat, tapi menurut saya ide yang ada di film ini cukup original dan worth to watch lah, walaupun banyak bertebaran darah tapi itulah yang bikin seru. Selain itu film ini nyediain nggak cuman satu sudut pandang tapi tiga sudut pandang dari tokoh-tokohnya nggak stuck nyeritain apa yang ada di depan. Tapi memperlihatkan apa yang alasan dibalik tindakan yang dilakuin oleh masing-masing tokoh.
Gambar-gambar yang ada juga nggak tampak fake jadi nggak malesin buat ditonton. cara membunuh korban juga nggak dilebih-lebihkan, ya normal way to make people died lah ya. Yang menarik lagi dari film ini, film ini nggak ngasih sudut pandang sosok protagonis kayak kebanyakan film detektif lainnya tapi malah ngasih sudut pandang dari para pembunuh yang ada di film ini. Suasana ataupun penggambaran yang dikasih film ini juga dapet banget kalau menurut saya.
Tapi film ini memang cuman cocok buat penikmat film detektif ataupun thriller karena terlalu banyak kekerasan dalam film ini. Jadi buat penikmat film yang suka dengan cerita-cerita suram dan nggak happy ending bisalah nonton film yang satu ini. 

Buat yang mau ngecek Trailernya silahkan -> http://www.youtube.com/watch?v=uzQk8Be3EWY 

Monday, June 3, 2013

Penggambaran Penyebab Kerusuhan dalam Film "Why The Riots Happen"

Sebenarnya ini bagian dari tugas Psikologi Komunikasi saya. Saya diberi tugas untuk melihat mengapa suatu kerusuhan dapat terjadi dalam film "Why The Riots Happen". ini sedikit pendapat atau pemikiran saya pribadi terkait dengan alasan-alasan mengapa sebuah kerusuhan ataupun konflik bisa terjadi. Silahkan dibaca.
Film Why The Riots Happen mencoba memberikan gambaran mengenai mengapa sebuah konflik ataupun kerusuhan dapat terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa karena perbedaan ras, agama hingga permasalahan ekonomi ataupun politik yang bersangkutan dengan negara.
Suatu masalah kecil dapat menyulut sebuah kerusuhan. Perspektif orang ketika memandang sesuatu yang ia anggap benar lalu terjadi sebaliknya, hal ini juga dapat menimbulkan sebuah hasrat untuk melawan. Apalagi ketika seseorang memiliki sejumlah massa, tentu hal tersebut mampu menambah tingkat percaya diri seseorang untuk melawan.Kerusuhan juga dapat muncul karena sekelompok orang yang terpojok merasakan suatu tekanan berlebih, memuakkan mereka. Sehingga memunculkan keinginan untuk melawan. Lepas kendalinya massa karena ingin keluar dari tekanan yang ada, jengah dengan sentimen yang ada.
Kasus pemukulan terhadap Rodney King misalnya, hal ini memunculkan pandangan bahwa ketika orang yang memiliki strata sosial lebih tinggi ia bisa kebal hukum.Keadilan menjadi hal yang sensitif pada saat itu, keberadaannya seakan isa dibeli oleh kaum-kaum petinggi. Hal inilah yang menyebabkan konflik besar muncul saat itu.
contoh lain yang dibahas dalam film ini adalah penembakan yang terjadi di Korean Market. Latasha Harlins tertembak hanya karena sebotol jus jeruk. Perbedaan budaya disini menjadi masalah. Pemilik toko menganggap Latasha akan mencuri jus tersebut padahal Latasha sudah memegang uang untuk membayarnya. Percekcokan tersebut akhirnya menyebabkan Latasha tewas tertembak oleh pemilik toko. Pada akhirnya pelaku hanya dikenai hukuman yang dianggap tidak setimpa dengan kematian Latisha. Hal inilah yang pada akhirnya menyulut konflik dan kerusuhan saat itu.
Kerusuhan lain yang diperlihatkan dalam film ini adalah kerusuhan yang terjadi di Huntington Beach tahun 1986. Sebenarnya permasalahan tersebut hanyalah permasalahan pribadi yang akhirnya meluas dan menjadi sebuah kerusuhan. Disini terlihat bahwa ketika seorang pribadi berada di tengah kerumunan yang mendukungnya, mereka akan menemukan keberanian untuk melakukan hal yang berlebih dan bisa mengarah menjadi suatu tindakan anarkis.
Dari semua cuplikan kerusuhan yang pernah ada dan dirangkum dalam film ini, dapat terlihat bahwa penyebab terjadinya suatu kerusuhan dapat dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Kasus Rodney King, kerusuhan yang terjadi saat itu dilatarbelakangi masalah strata sosial dan masalah ras.  Kasus penembakan Korean Market, terjadi karena adanya perbedaan budaya, kesalah pahaman antar satu sama lain. Dalam dua kasus tersebut masalah keadilan tampak menonjol, banyak pihak yang merasa bahwa keadilan tidak ditegakkan dengan benar. Hukum tidak berlaku. Sedangkan contoh kasus di Huntington sebenarnya terlalu berlebihan. Permasalahan pribadi menyulut amarah sekelompok orang.
Pada intinya kerusuhan dalam Why The Riots Happen ini rata-rata terjadi karena munculnya perbedaan perspektif antar kelompok. Kurangnya rasa saling toleransi satu sama lain juga mampu melatarbelakangi terjadinya sebuah kerusuhan. Pada dasarnya tiap individu memiliki suatu adrenalin tersendiri untuk ingin melakukan pemberontakan. Keterpojokan diri juga mau tidak mau memaksa seseorang untuk melawan, hal inilah yang juga bisa menjadi penyebab terjadinya suatu konflik ataupun kerusuhan.
Disini dapat terlihat bahwa terkadang suatu kerusuhan itu terjadi dengan berbagai alasan. Mulai dari masalah-masalah yang besar hingga permasalahan sepele yang sebenarnya tidak perlu menjadi berkepanjangan. dari Film ini saya sadar bahwa dunia ini semakin aneh. Hal-hal tak masuk akal masih mungkin terjadi di sekitar kita.

Monday, May 6, 2013

Beban Pikiran Saya Beberapa Hari Belakangan

Sekitar beberapa hari ini saya dirundung perasaan was-was yang tidak ada hentinya, saya sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya. Beberapa hari ini pula saya tiba-tiba ingin bertambah dekat lagi dengan adik saya, saya ingin menjadi kakak yang baik, yang menghabiskan waktunya bersama adik satu-satunya. Saya lupa hari apa tepatnya, adik saya juga bertanya "kakak tumben kok baik banget e" dan saya jawab sambil bercanda "aku kayak gini terus kok,kamu yang gak sadar." Mungkin hanya karena kepikiran beban-beban tugas di kampus saya jadi berpikiran seperti ini, tapi yang jelas saat ini saya memang benar-benar merasa bahwa saya terlalu acuh  dengan adik saya. Saya merasa lelah dan sedih karena mungkin itikat baik saya ini terhalang teman-teman kampus yang mungkin menganggap saya hanya mencari alasan terkait dengan perhatian saya untuk menjemput adik saya, mencari alasan agar bisa bebas dari tugas-tugas saya. Tapi saya benar-benar tulus kok melakukan hal ini, bukan untuk cari alasan mlipir dari rapat.
Belakangan ini juga kesehatan saya menurun, alat pencernaan saya yang sudah cacat karena sedari kecil terkena tifus sudah overly sensitive jadi mudah sakit. Bhakan sudah seminggu lebih ini saya  terkena diare yang tidak ujung sembuh. Saya tidak berani bilang ke siapa-siapa karena merasa akan merepotkan mereka. Kalaupun saya cerita dengan teman saya, saya takut mereka tidak percaya karena saya memang sakit perut dan mungkin mereka pikir saya main-main. Saya sendiri bingung dengan kehidupan saya belakangan ini. Terlalu banyak yang dipikirkan, sehingga sayapun takut melakukan kesalahan yang merugikan orang lain. Satu hal yang benar-benar saya inginkan saat ini. Saya ingin mengundurkan diri dari kepanitiaan yang saya ikuti saat ini. Bukan karena malas, tapi keadaan saya makin tidak memungkinkan. Gampang sakit, mudah lelah, kinerja tidak optimal. Saya cuma tidak enak dengan teman saya yang lain. Yang jadi repot gara-gara saya. Kesehatan saya makin menurun, saya jadi tidak bisa pulang terlalu larut karena akan membahayakan diri saya dan orang lain, ketika saya naik motor konsentrasi saya juga sering menurun belakangan ini. Entahlah saya makin tidak paham dengan badan saya ini.
Mungkin dari luar saya terlihat sehat, apabila anda melihat saya secara langsung. Tapi memang sebenarnya saya adalah orang yang mudah sakit, mudah ambruk, ya itu tadi karena kesalahan saya sendiri yang dulu tidak menjaga kesehatan dengan baik. Maaf ya apabila tulisan saya ini terkesan curhat, memang curhat sebenarnya, karena saya sendiri tidak tahu harus cerita pada siapa. Terlalu banyak fakta yang terdengar bohong kalau saya cerita ke teman saya. Maklum mungkin mereka tidak percaya dengan saya karena mereka sendiri baru kenal saya sejak kuliah. Bukan dari zaman SMP ketika saya masuk rumah sakit karena DB, atau bahkan SD ketika saya bolak-balik rumah sakit kurang lebih empat kali karena tifus. Ya saya juga tidak menuntut mereka untuk peduli dengan keadaan saya saat ini. Siapa lagi yang bisa peduli selain diri saya sendiri.

Saturday, May 4, 2013

Kilasan "curhat" hari ini

Saya dapet tugas kelompok sekitar hari selasa lalu, diminggu yang sama. Kita sudah membaginya lagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk membahas sub bahasan yang ada. Saya sudah sepakat dengan teman saya yang rumahnya dekat untuk menjadi satu kelompok agar koordinasi jadi mudah. Kabar mengenai tugas tersebut tidak kunjung datang, sampai hari ini Minggu, 5 Mei 2013 ada sms masuk dari anggota kelompok lain yang membagi tugas saya dengan teman saya yang lain yang jarak rumahnya belasan kilo dari saya. Saya tanya, "aku kan udah janjian sama __ biuat barengan." dan dia cuman jawab "aku dah di rumah __ ngerjain, km sama ini aja ya aku besok nggak bisa soalnya." Self oriented sekali teman saya ini. apa dia tidak memikirkan bahwa saya juga punya banyak hal untuk dikerjakan. Ketika sama dapat sms itu, saya sudah tidak peduli. Terserahlah nanti gimana. Dia saja bisa memikirkan dirinya sendiri, mengapa saya tidak. Kalau saya tidak boleh begitu mengapa tiba-tiba merubah tugas yang sebelumnya telah dibagi.Entahlah saya yang terlalu sensitif atau orang lain yang sulit menghargai satu sama lain.

Wednesday, April 17, 2013

Pasca UTS

     Malam ini, seperti malam-malam biasanya di Jogja akhir-akhir ini. Panas. Entah mengapa udara terasa begitu lembab. Hari ini, tidak ada lagi suara hujan yang menemaniku, memecahkan keheningan malam. Mengantarkan tidurku yang kurang berkualitas ini. 
     Malam ini seperti malam biasanya, atau dini hari biasanya. Aku duduk di depan laptop, sambil melakukan banyak hal. bedanya malam ini aku tidak lagi harus mengerjakan tugas brengsek yang akupun tak tahu apa yang mesti kukerjakan dengan soal yang ada. Maklum, aku bukan manusia cerdas atau kritis lebih tepatnya yang mampu menuliskan berhalaman-halaman jawaban untuk soal take home yang kuterima. 
     Soal take home yang dua minggu lalu menjadi musuhku kini sudah hilang. Tak ada lagi bayang-bayang dosen di malam-malamku saat ini. Aku mungkin bukan tipe orang yang bisa dikejar waktu, takut tak tergarap. Malam ini aku lagi-lagi tidak bisa tidur, insomnia mungkin, entahlah aku tak tahu pasti. Ibu sering memperingatkan, jangan tidur malam. Gampang terserang penyakit katanya. Ya belakangan ini cukup terasalah, karena tidur berkualitas tak pernah kulakukan. Tapi mugkin ini hidup mahasiswa, tidur malam lembur tugas. 
Mungkin inilah yang bisa jadi kenangan besok. Selagi bisa menikmati, akan lebih baik lagi kalau aku rasakan saja. santai tanpa beban. Belum, mungkin. Siapa yang tahu apa yang terjadi besok?
     Inilah sepenggal tulisan tentang malam pasca UTS yang masih bisa dinikmati. Semoga hari-hari berikutnya akan terus santai atau bahkan lebih selo daripada ini. Ya apa salahnya berharap sedikit?

Monday, April 8, 2013

Mata-Mata di Sudut Cafe



Seperti hari-hari biasanya, aku hanya bisa memandanginya, lagi-lagi dari kejauhan. Wajahnya tampak lebih ceria dari hari terakhir aku melihatnya, ya baru kemarin aku melihatnya. Syukurlah, tidak lagi kutemukan awan mendung yang menghiasinya seperti hari-hari kemarin.
Hari ini dia mengganti pesanannya. Hari ini ia meminum secangkir Caramel Macchiato. Kemarin ia hanya meminum segelas ice Americano. Aku tahu apa arti dari setiap kopi yang ia pesan setiap hari. Setidaknya perasaannya, hanya terkaanku. Karena jujur saja aku belum pernah mengenal wanita itu. Ketika ia memesan iced americano itu berarti ia tidak sedang dikelilingi oleh hal-hal yang ia senangi, kebalikannya, ketika ia memesan secangkir Caramel Macchiato itu artinya ia sedang menikmati kehidupannya di hari itu.
Entah mengapa aku selalu menikmati setiap detik yang berlalu ketika ia menenggak minuman yang tersedia di depannya. Di meja yang dipenuhi oleh kertas-kertas yang menumpuk. Kulihat jarinya yang menari-nari menuliskan segala hal yang terpikirkan olehnya. Aku tahu ia adalah seorang penulis, kulihat itu dari cara berpakaiannya, cara berpikirnya ketika duduk terdiam sendiri di tempat yang sama, aku tahu segala hal tentangnya. Setidaknya itu yang terpikirkan olehku ketika melihat hal-hal yang ia lakukan.
Aku selalu menikmati tiap detik yang berlalu ketika aku melihatnya dibangku itu. Selalu, ya selalu. Suatu hari ia pernah datang ke Cafe ini. Hanya masuk sebentar dan keluar tiba-tiba. Aku kecewa melihatnya saat itu. Namun, setelah satu jam berlalu aku melihatnya kembali. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Beberapa kali aku melihatnya melakukan hal yang sama. Dan baru aku sadari bahwa wanita itu tidak pernah mau menggunakan bangku lain selain bangku yang terletak di ujung cafe, bangku yang menghadap ke jalan kecil di samping cafe ini.
Aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Aku tahu begitu bodohnya aku melakukan hal ini selama lebih dari satu tahun. Aku baru pindah ke kota ini pada saat itu. Sama dengan umur dari cafe yang kubangun sedikit demi sedikit ini,  dan ketika aku melihatnya entah mengapa semua hal yang ada di sekitarku tampak berubah. Entah apa arti semua perasaan ini. Hal-hal yang membuatku lelah dan ragu saat mengambil keputusan untuk mengelola cafe ini dengan tanganku sendiri tiba-tiba sirna saat pertama kali aku melihatnya duduk dan tersenyum melihat cafe ini.

Friday, March 29, 2013

Resensi Maundy Thursday: Mengantarkan Pesan Kehidupan tanpa Menggurui

Film Maundy Thursday atau Our Happy Time ini merupakan sebuah film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, Our Happy Time karya Gong Ji-young. Dalam film ini Song Hae-sung sebagai seorang sutradara berusaha untuk membuat film yang penuh dengan permainan emosi. Hal ini terlihat dari berbagai perilaku tokoh dan juga jalan cerita yang ada.
Film ini mengambil tema yang bersangkutan dengan keagamaan, bagaimana permasalahan kehidupan dilihat dari segi agama kristianiterlihat dari judul film ini sendiri, Maundy Thursday merupakan perayaan umat kristiani, jatuh pada hari kamis sebelum paskah bisa dikatakan sebagai hari suci umat kristiani.
Menceritakan dua individu yang memiliki kehidupan tragis, sama-sama berusaha untuk berjumpa dengan maut dan mengakhiri kehidupan mereka. Film ini tidak hanya berusaha menyajikan sebuah drama kehidupan tentang percintaan, tetapi juga tentang pembelajaran. Aspek-aspek yang ada dalam kehidupan seorang manusia. Manusia tidak bisa hidup sesuai dengan keinginannya sendiri, tetapi juga penuh pertimbangan memikirkan orang lain, tidak tertinggal pula peraturan tertulis yang mengikat manusia dalam menjalankan hidup, kekuasaan pemerintah.
Maundy Thursday menceritakan kisah hidup Yun-soo (Kang Dong-won), seorang tahanan yang menanti hari pengeksekusiaannya. Dia tidak percaya dengan agama pada saat itu, karena ia akan dihadapkan dengan hukuman mati seorang biarawati bernama Monica berusaha membujuknya untuk mempercayai keberadaan tuhan. Yun-soo menolak kebaikan dari Monica. Ia juga sangat membenci hari dimana Monica selalu mengunjunginya, Yun-soo juga meminta agar Monica tidak lagi datang menemuinya. Yun-soo sendiri beranggapan bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan saat ini sehingga kematian merupakan kunci dari segal pertanyaan yang ada diotaknya. “Alangkah baiknya jika kematian mendatangi saya hari ini” kalimat itu seolah tersirat dari tatapan Yun-soo ketika bertemu dengan Monica. Yun-soo juga digambarkan sebagai sosok penyendiri yang jarang bergabung dengan sesama narapidana, bahkan banyak yang takut mendekatinya karena ia merupakan terdakwa kasus pembunuhan.
Di sisi lain film ini menghadirkan sosok Yun-jung (Lee Na-young) seorang dosen yang juga merupakan mantan penyanyi yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Yun-jung telah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali. Ia tidak lagi mempunyai keinginan untuk hidup. Ia sangat membenci ibunya, karena pengalaman masa remaja yang tidak pernah ia lupakan. Ditambah lagi dengan pandangan orang lain yang merasa kehidupan yang dirasakan oleh Yun-jung sangat nyaman dengan kekayaan yang ia miliki, padahal kebahagiaan sudah tidak lagi ia rasakan.
Pertemuan kedua tokoh utama bermula dari ajakan Monica, biarawati yang merupakan tantenya sendiri untuk membantunya menemui Yun-soo yang merupakan tahanan yang menanti hari pengeksekusiannya. Dapat dilihat bahwa sebenarnya Monica disini berusaha untuk memberikan perspektif lain tentang kematian dengan mempertemukan Yun-jung dengan Yun-soo.
Setelah melihat perilaku Yun-soo kepada Monica, Yun-jung memutuskan untuk tidak membantu Monica. Namun pada akhirnya Yun-jung mau menemui Yun-soo setiap minggunya di hari yang sama, yaitu hari Kamis. Mulanya Yun-jung hanya ingin sekedar membantu Monica dengan menemui Yun-soo, namun disinilah muncul suatu kenyamanan tersendiri dalam diri Yun-jung, ketika ia bertemu dengan Yun-soo ia bisa menjadi dirinya sendiri, menceritakan berbagai hal yang selama ini telah ia kubur dalam-dalam.
Salah satu adegan yang bisa dikatakan sebagai adegan penting adalah ketika Yun-soo menceritakan permasalahan hidup yang dialaminya sejak kecil. Ia harus berusaha keras untuk mencari makan karena ibunya sudah menikah dengan orang lain yang tidak menyukai keberadaan Yun-soo dan adiknya yang buta. Yun-soo yang pada awalnya tinggal di rumah singgah bersama adiknya memutuskan untuk pergi dari rumah singgah tersebut dan berusaha untuk mencari uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang adik.
Yun-soo dan adiknya yang buta harus mengamen meminta belas kasihan orang lain hanya sekedar untuk membeli makan. Keadaan bertambah sulit ketika Yun-soo melihat adiknya yang mudah sakit dan ia tidak memiliki cukup uang untuk membawanya ke rumah sakit. Suatu pagi Yun-soo membangunkan adiknya, namun yang dia lihat hanyalah mayat seorang anak yang pucat pasi. Dari situlah ia berkata pada Yun-jung bahwa seharusnya ia ikut dengan adiknya, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak akan ia alami. Pada adegan ini Yun-jung menampakkan simpatinya pada Yun-soo, namun Yun-soo sangat membenci perilaku Yun-jung. Yun-soo menganggap orang-orang sepertinyalah yang harusnya tidak ada lagi di dunia. Mengumbar rasa kasihan tanpa tahu apa yang ia rasakan.
Sejak kejadian tersebut munculah kembali jarak di antara keduanya. Yun-jung akhirnya mendatangi Yun-soo dan menceritakan mengapa ia selalu mencoba untuk bunuh diri. Yun-soo  juga menceritakan rahasia yang telah ia simpan selama ini. menceritakan kejadian di balik hukuman mati yang harus ia jalani. Yun-soo sendiri terkejut ketika mendengarkan cerita dari Yun-jung, pertanyaan yang muncul ketika ia melihat Yun-jung, sosok wanita kaya namun ingin mengakhiri kehidupannyapun terjawab. Ia paham saat ini bahwa menjadi orang berkecukupanpun tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang.  
Pada saat itulah Yun-soo dan Yun-jung mulai menemukan irama kehidupan yang baru. Perubahan irama kehidupan Yun-soo ditunjukkan dalam satu adegan ketika salah seorang pendeta membersihkan kaki Yun-soo dan ia berkata “Ketika ikan berubah menjadi manusia itu namanya sulap, namun ketika kita berubah menjadi orang yang berbeda itu baru yang disebut dengan keajaiban.” Saat itulah Yun-soo mulai membuka diri dengan melakukan ibadah sampai ia memutuskan untuk dibaptis. Ia juga mulai menghargai sisa hidup yang ia miliki, ia tidak lagi menjadi sosok yang dingin, ia mulai banyak berinteraksi dengan sesama tahanan.
Yun-jung juga mulai menata kembali kehidupannya, melakukan banyak hal yang selama ini telah ia lewatkan. Ia berkeliling dan memotret banyak tempat yang ia kunjungi, untuk menunjukkannya pada Yun-soo. Yun-jung yang juga telah mengetahui rahasia di balik kasus yang dialami oleh Yun-soo beusaha membujuk kakaknya yang juga ikut andil dalam kasus Yun-soo untuk mencegah hukuman mati yang akan diberikan pada Yun-soo, ia juga berusaha menemui teman Yun-soo agar menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hal tersebut pada akhirnya sia-sia dan Yun-jung hanya bisa menemani Yun-soo sampai waktu pengeksekusiannya tiba. Sebagai balas budi atas kebaikan yang diberikan Yun-jung padanya, Yun-soo juga membuatkan sebuah kalung salib dan memberikannya pada Yun-jung dan juga Monica.  Selain itu Yun-soo juga menyimpan semua foto yang diberikan Yun-jung kepadanya, menyimpannya sebagai memori yang mengajarinya akan banyak hal.
Kisah cinta yang dihadirkan disini berbeda dengan banyak film drama lainnya. Film ini tidak mengisahkan manis, pahit, dan juga pemainan perasaan antara tokoh Yun-soo dan Yun-jung. Penonton dibiarkan untuk membaca bagaimana perasaan yang dimiliki oleh kedua tokoh utama. Tokoh Yun-jung dan Yun-soo saling membuka diri satu sama lain, menceritakan kisah tragis hidup mereka, menceritakan apa yang membuat mereka berakhir di titik yang mereka pijak saat ini. Keduanya telah menyadari perasaan itu, namun waktu yang mereka miliki juga tidak lagi banyak, hari pengeksekusian Yun-soo juga  semakin mendekat. Mereka sama-sama tidak tahu kapan mereka harus menghadapi perpisahan yang memang sudah ada di depan mata. Jelas sekali bahwa romantisme cerita cinta mereka tidak menjadi sorotan utama dalam jalan cerita yang tersusun dalam film  ini, karena film ini lebih banyak menceritakan bagaimana kedua tokoh utama menemukan perspektif baru dalam kehidupan mereka.
Dalam film Maundy Thusday ini penonton sendiri diminta untuk mempelajari sifat yang dimiliki masing-masing tokoh seiring dengan berjalannya waktu. Penonton diminta untuk melihat perubahan-perubahan yang dimiliki masing-masing tokoh yang ada dalam film ini. Kang Dong-won dan Lee Na-young mampu dengan baik menunjukkan tiap-tiap perubahan mimik yang ada pada tiap scene dalam berbagai keadaan. Permainan alur cerita dari film Maundy Thursday ini juga mampu memberikan arus tersendiri bagi penontonnya, bagaimana kejadian-kejadian masa lalu hadir dan mengubah sifat tokoh. Seolah-olah perubahan diri yang ada dalam tokoh sebenarnya tidak dikehendaki oleh tokoh itu sendiri.
Keluar dari konteks hubungan antara kedua tokoh utama, satu adegan lain yang penuh dengan makna adalah ketika Yun-soo dipertemukan dengan ibu dari korban pembunuhan yang telah ia lakukan. Kang Dong-won sebagai seorang aktor mampu memainkan emosi dengan sangat baik dalam adegan ini, ia mampu menunjukkan pada penonton bagaimana ia memainkan ekspresi antara rasa takut dan rasa bersalah serta kebingungan mendalam dengan sangat baik. Akting dari ibu korban juga cukup bagus dimainkan, ketika ia kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Yun-soo, rasa bersalah yang juga muncul ketika melihat sosok Yun-soo, dan juga rasa benci mendalam ketika melihat pembunuh yang menghabisi nyawa anaknya. Scene ini ingin bercerita tentang bagaimana seseorang harus rela memaafkan orang lain walaupun itu akan terasa sangat berat. Memaafkan orang lain akan mengangkat derajat manusia lebih tinggi lagi, menyimpan dendam hanya akan terus menambah luka dalam hati. Setidaknya itu inti dari scene tersebut.
    Film ini juga tidak melulu menyorot kehidupan penuh gejolak yang dimiliki Yun-soo dan Yun-jung, tetapi juga tokoh-tokoh pembantu yang juga menghidupkan jalan cerita dari film ini. seperi scene dimana para eksekutor menghadapi dilema hidup akan pekerjaan yang kini mereka jalani. Bagaimana banyak orang memandang mereka sebagai orang yang tidak berperasaan, atau sekedar rasa takut yang dihadapi oleh mereka ketika mengetahui senjata yang ia peganglah yang membunuh terpidana mati. Kesulitan untuk menghadapi tanggungan mereka, rasa tanggungjawab atas pekerjaan atau teriakan kecil di dalam hati mereka. Mana yang seharusnya didengarkan oleh mereka.
Bagian akhir dari film ini bisa dibilang cukup mengundang air mata. Yun-soo yang pada saat itu sedang menghabiskan makan siang bersama teman-teman satu tahanan dipanggil oleh petugas, dan pada saat itulah ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Pada awal mendengarkan kabar tersebut Yun-soo sendiri merasa terkejut, karena kekhawatirannya tidak terjadi. Pada awalnya dia mengira bahwa ia akan menghadapi ketakutan yang berlebih ketika mendengarkan kabar pengeksekusian, tapi kenyataannya tidak banyak hal yang muncul dipikirannya. Ketakutan bukan muncul dengan sendirinya, tapi muncul dari dalam diri kita sendiri. Ketika kita menanamkan pada diri kita bahwa kematian merupakan hal yang mengerikan, pasti kekhawatiran dalam diri kita akan meningkat. Ketakutan akan kematian sebenarnya hanya menguras waktu, karena pada dasarnya setiap orang pasti akan dihadapkan dengan kematian, hanya saja Yun-soo berpendapat bahwa caranya menghadapi ajal tidak sesuai dengan yang digariskan, tapi ya sudah toh pada akhirnya setiap orang akan dihadapkan dengan kematian adalah inti dari scene ini.
Pembawaan tokoh Yun-soo ketika pertama diberi kabar dan ketika berjalan menuju ruang eksekusipun berubah. Bagaimanapun seorang manusia tidak ada yang mau mati dengan cara digantung seperti yang harus ia alami. Kang Dong-won memainkan ekspresi wajah dengan cukup maksimal disini. Kematian akhirnya datang, tinggal selangkah di depan mata. Bagian paling berkesan dalam film ini menurut saya sendiri adalah scene hukuman gantung yang dihadapi oleh Yun-soo. Dalam scene ini Yun-soo mengungkapkan segala hal yang ingin ia sampaikan pada orang-orang yang telah membantu dan ada untuknya, termasuk Yun-jung. Yun-soo pada awalnya tidak menyadari keberadaan Yun-jung sampai akhirnya seorang pendeta mendatanginya dan memberi tahu bahwa Yun-jung sedang menyaksikan dan mendengarkannya di ruang sebelah. Yun-soo kemudian menyampaikan segala hal yang ia simpan di dalam hatinya, termasuk perasaan yang dimilikinya untuk Yun-jung.
Scene ini bisa dikatakan juga sebagai bagian paling menyedihkan dalam film ini. Yun-soo yang wajahnya ditutup dan di gantungkan pada seuah tali tambang mulai ketakutan akan apa yang ada dihadapannya saat ini. dia tidak bisa melihat apa-apa hanya merasakan sebuah tali diikatkan dikepalanya. Dilema dari petugas eksekusipun kembali muncul disini, ketika Yun-soo harus sedikit menunggu petugas yang ketakutan, biimbang, dan tidak tega melakukan tugasnya, karena mengetahui perkembanga Yun-soo menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Film ini berakhir sedih denga kematian dari tokoh utama Yun-soo. Menurut saya inilah tipikal film drama Korea yang banyak berakhir dengan air mata atau ­sad ending.  Pesan yang ingin disampaikan dalam film inipun cukup terwakilkan dengan baik, didukung dengan shot-shot yang memberikan efek dramatisasi tersendiri. film ini sendiri ingin mengatakan bahwa terkadang kehidupan kita itu tidak akan tertebak, kita tidak akan tahu ada rencana lain yang memang sudah dirancang sedemikian rupa tanpa kita ketahui. Kita hanya perlu menjalankan apa yang ada dihadapan kita. Ketakutan memang hal yang manusiawi, tetapi kita juga tetap harus memperkuat hati dan percaya ada rencana lain di depan kita.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, film ini sendiri membahas unsur-unsur kristiani yang ada dalam kehidupan penganutnya. Namun, unsur kristiani sendiri tidak banyak ditonjolkan sehingga tidak mempengaruhi pikiran penonton secara langsung. Pada intinya film ini memberi banyak pelajaran baik pada penontonnya tanpa berusaha menggurui, lebih kepada membimbing penonton dan membiarkan penonton mencari maknanya sendiri. Bagaimana penonton dapat mendefinisikan proses dan juga harapan dalam menjalani hidup tanpa perlu memunculkan sifat penyesalan dalam hati walaupun sifat tersebut pasti ada dalam hati tiap individu.
Sebenarnya film ini juga berusaha mengangkat permasalahan hukuman mati yang berlaku pada saat itu. Pesan ini ingin ditunjukkan pada penontonnya, namun sekali lagi tanpa adanya paksaan atau penekanan secara berlebihan. Sutradara berusaha menyuguhkan gambar yang dapat ditelaah lebih lanjut bagi penontonnya. Film ini benar-benar mampu menarik orang yang tidak terlalu tertarik dengan film bergenre drama untuk melihatnya karena penuh dengan aspek psikologi yang pasti dialami oleh tiap individu.
Pesan lain yang ingin disampaikan dalam film ini adalah bagaimana kita sebagai seorang manusia tidak hanya berpegangan pada satau perspektif. Ada kalanya kita perlu melihat kehidupan orang lain dan berkaca, apakah yang kita lakukan selama ini sudah benar atau memang masih perlu diperbaiki. Lihatlah dari berbagai sudut pandang, sehingga kita mempu mengembangkan diri menjadi lebih baik ke depannya.pada intinya bagaimana kita sebagai seorang individu mampu menghargai hidup yang kita jalani. 
Silahkan cek trailernya disini -> http://www.youtube.com/watch?v=zKvuuhm62BY